SURABAYA.(SLI).Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi dan Manajemen Kepelabuhanan (STIAMAK) Barunawati Surabaya dan STC The Netherland melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU). Dilakukan di kantor Yayasan Barunawati Biru Surabaya (YBBS), Rabu (30/1/2019). Hadir dalam acara tersebut, Ketua STIAMAK Barunawati Surabaya, Nugroho Dwi Priyohadi didampingi Ketua YBBS, Andito Sutarto bersama segenap pengurus dan pengawas yayasan. Sedangkan dari STC The Netherland, Albert Bos, Adson Hoffman dan Robert Tjandrakusuma.
Ketua STIAMAK Barunawati Surabaya Nugroho Dwi Priyohadi menjelaskan, penandatangan MOU tersebut merupakan tindak lanjut pertemuan dan kerjasama antara STIAMAK dengan STC The Netherland yang sudah dilakukan sebelumnya. Sedangkan isi dari MOU antara lain meliputi; bidang penelitian, pendidikan dan pengabdian perguruan tinggi, pelatihan SDM pelabuhan dan shipping lines. “Kami sangat antusias menjalih hubungan kerjasama ini. Karena STC melihat prospek bisnis maritim di Indonesia cukup cerah dan prospektif,” kata Albert Bos.
Sementara Nugroho menambahkan, MOU tersebut akan ditindaklanjuti dengan program nyata berupa pelatihan SDM kepelabuhanan. “STIAMAK telah memiliki komitmen berkontribusi pada pengembangan bisnis maritim di tanah air. Dengan adanya MOU menjadikan posisi STIAMAK semakin dikenal dan dipercaya sebagai agen pengembangan SDM kepelabuhanan. Kepercayaan ini akan kami kelola dengan baik dan terus menjalin hubungan kerjasama dengan pihak yang lebih besar,” tegas Nugroho.
Sebelumnya, STC The Netherland telah menjalin hubungan kerjasama dengan STIAMAK melalui event seminar International Maritime Leadership Seminar di kantor pusatnya di Surabaya,(30/8). Seminar tersebut menghadirkan Capt. Albert Bos dan A. A. Hofman serta Commercial and Operational Director Pelindo III, Mohammad Iqbal. Capt. Bos mengungkapkan bahwa basis dari kegiatan di Indonesia adalah kesepakatan antara Pemerintah Belanda dan Indonesia pada 2016 terkait pengembangan maritim dan pelabuhan. “Kerja sama tersebut disepakati saat Presiden Jokowi berkunjung ke Belanda, dan edukasi menjadi point penting dalam kerja sama tersebut untuk memastikan semua pihak siap untuk (tantangan maritim) masa depan dengan menyiapkan calon-calon pemimpin dunia maritim Indonesia,” ungkapnya.
Bos menambahkan bahwa pemimpin masa depan harus fleksibel, inovatif, dan siap untuk berkompetisi dengan terminal-terminal lain di dunia. Ketiga hal tersebut yang diharapkan pada figur pemimpin baru. “Saya rasa itulah mengapa Pelindo III terus mendorong edukasi maritim, baik melalui event seminar ini dan bagaimana mereka telah mengirim puluhan karyawannya ke universitas-universtitas maritim dunia,” tambah Capt. Bos.